Selasa, 05 Juni 2012

Tak Merokoklah (Kamu pasti bisa!!!)

Hal baru baginya selalu dianggapnya menarik. Mencoba hal baru selalu menjadi hal yang menantang untuknya. Baginya, kenapa tidak?! Selama hal baru itu tidak dilarang agama. Setahunya, merokok itu tidak diharamkan, tak seperti miras yang sudah jelas tercantum dalam Al-Quran ataupun drugs alias narkoba yang tersiar di berita telah menelan banyak korban jiwa.
Ia tak tahu – saat itu – jika beberapa orang terjerumus narkoba karena mengawali merokok. Ia pun tak mau tahu buruknya merokok selama ia belum mencobanya.
Di sudut WC 2x2, ia kira takkan ada yang tahu kalo dirinya sedang menghisap sebatang rokok. Sembunyi-sembunyi, itulah dia saat mencoba merokok karena ia tahu kakak laki-lakinya tak merokok dan ia pun yakin emak – panggilannya pada Ibu – takkan suka melihatnya merokok.
Tiga kali hisap sudah, ia pun menikmatinya sampai …”Tok! Tok! Tok!” ketukan pintu mengagetkannya. “Itooong! Buruan! Lagi sakit perut.” Teriak kakak iparnya yang sudah ga’ kuku menahan mules.
Terperanjatlah Itong dan bergegas mematikan nyala rokoknya. Bingung…rokoknya belumlah habis, mau dipegang takut ketahuan tapi dibuang sayang. Tak pedulilah dia akhirnya, dia pun membuang rokok pertamanya ke dalam kloset dan “Byur! Byur! Byur!” hilanglah sudah wujud rokok itu.
“(mengendus-ngendus) Bau apa ini? Seperti bau asap…umm asap apa ya?” ujar sang kakak ipar.
“Apa ya teh?” tukasnya.
“Ya sudah, teteh mules ni.”
Percobaan pertama yang hampir ketahuan tak membuat Itong lantas kapok. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga sangat tertariknya dia untuk melakukannya kedua kalinya. Dan kali ini, lebih parah…
Di atas batu di kebun kecil di belakang rumah Itong duduk-duduk santai. Ia pun terbawa suasana. Pikirnya ini adalah tempat yang aman. Lagipula emak dan teteh tak ada di rumah. Kakaknya pun sedang bekerja. Ya paslah! Sip! Hiisaaap!
Angin sepoi di sore hari memanjakannya membuatnya serasa dunia miliknya seorang hingga pada akhirnya…
“Itong!!!” ternyata sang kakak telah tiba di rumah dan sedang menyaksikan Itong menghisap batang yang dibencinya.
Terperanjat, lebih-lebih dari kemarin. Salah tingkah, mau berkilah tiadalah guna,,,dia sadar dia sudah tertangkap basah. Diapun bersiap dengan apapun yang akan dikatakan kakaknya.
“Kamu merokok?!!! Sejak kapan hah?!! Kenapa kamu merokok?! Jawab!” Itongpun diinterogasi.
Tak boleh jadi pengecut, ia harus katakan yang sebenarnya karena ini memang ulahnya, “Iya A, ini rokok kedua. Umm…Itong cuma mau nyoba soalnya temen-temen Itong juga pada ngerokok.”
Kakaknya merasa cukup lega mengetahui bahwa ia tak terlalu kebobolan menjaga Itong dari kenakalan remaja. Meski ini yang kedua kalinya Itong merokok, kakaknya yakin bahwa ini kan jadi yang terakhir setelah kakaknya menasihatinya.

Itong, Itong, seorang yang suka tantangan. Tak kapok ia meski kemarin kakaknya menasihatinya dengan artikel, majalah dan buku tentang buruknya rokok untuk hidup. Toh ternyata bapak Memet yang tinggal di ujung gang selalu nampak sehat saja. Bahkan malah pa Iwa yang tak pernah merokok yang sering bolak-balik rumah sakit.
“Mau kemana kau tong?” Tanya kakaknya ketika melihatnya melangkah ke luar rumah.
“Ke warung, mu nyari cemilan n udara segar.”
Kakaknya tau, anak laki-laki tak boleh dilarang. Sama seperti dia dulu ketika remaja. Meski khawatir Itong akan merokok lagi, kakak pun mengijinkannya pergi.
“Ya sudah jangan lama-lama ya! Ingat pesan kakak kemarin!”
“Yoi!”

“Wah wah wah fire in the hall nieh… “ ujarnya ketika melihat teman-temannya sedang asyik merokok di tempat tongkrongan samping warung.
“Nieh tong, ta’ kasih.”
“Thanks bro. gapapa nieh ngerokok? Menurut buku yang brother ku baca, merokok tuh merusak kesehatan. Gimana tah bro?”
“Yo i. emang bener tuh buku tapi menurut yang gue denger…jadi passive smoker lebih merusak kesehatan daripada active smoker. Karna katanya nieh ya, passive smoker menghisap lebih banyak asap dari pada orang yang ngerokok kayak gua gini. So, daripada lu lebih sakit daripada gua, mending ngerokok juga.”
“Emang bro. gue ke sini kan mu ngebul, bul.”
Sekali, dua kali, tiga kali merokok membuatnya merasa nyaman. Apalagi teman-temannya pun demikian. Itong pun ketagihan, inginnya merokok daripada jajan makanan. Dan merokok pun menjadi kebiasaan.
Kakaknya tak sadar. Akhir-akhir ini dia sibuk dengan pekerjaannya. Emak dan teteh mana tahu, toh Itong tak pernah merokok di rumah lagi.
Itong pun merasa aman ketika kakaknya harus keluar kota karena pekerjaan. Dia pun tak segan untuk membawa rokok ke dalam kamarnya. Teteh dan emak ga’ mungkin bongkar-bongkar kamarnya kecuali kasur n lemari pakaiannya. Jadi, Itong menyimpan rokoknya di dalam tasnya.
Suatu waktu kakaknya ternyata pulang ke rumah. Tak ada yang tahu mengenai hal itu. Tak ada seorang pun di rumah yang diberi kabar mengenai kepulangan kakaknya. Itong pun tak bersiaga atau at least menyembunyikan rapat-rapat rokoknya.
Itong sedang di luar rumah, ngebantuin nenek di sebelah nurunin kucingnya yang nyangkut di pohon di kebun di belakang rumah nenek.
“Aa pulang ko ga bilang-bilang.” Ucap teteh.
“Iya, dadakan ni juga. Alhamdulillah kerjaannya cepet kelarnya.” Jawab kakaknya Itong. “Itong kemana? Aa butuh pulpen.”
“Lagi di nenek sebelah, ngebantuan apa gitu…ga tau. Ambil aja langsung di kamarnya.”
“Iya deh.” Beberapa saat kemudian pencarian pulpen di tas Itong berbuah petaka. Betapa shock-nya Aa melihat sebungkus batangan-batangan yang dibencinya. Betapa ingin meluapnya emosi diri Aa seperti gunung merapi yang hendak meletus.
“I..tong!”

Itong tak tahu menahu jika kakaknya sedang naik pitam di rumahnya. Setelah ia menurunkan anak kucing sang nenek, Itong malah makan kue buatan nenek yang dipersembahkan untuk Itong seorang. ”You are My hero” Kata nenek.
Di balik dinding rumah nenek, kakaknya yang naik pitam mondar mandir. . . mau keluar mencari Itong, tapi tak diijinkan istri. Memang istri yang baik, tau adat suami, sekalinya marah besar besarlah pula rusaknya.
“Sudah, duduk A. Istigfar! Istigfar!”
“Si Itong tuh yang suruh istigfar! Dikasih tau ga nurut malah kelewatan!” kalo dia ga masuk rumah, saya yang keluar!”
“Ya sudah biar saya panggilin Itong.”
Di rumah sang nenek, ternyata Itong tidak sedang melahap habis kue enak buatan nenek. Dia malah sedang melongo ketika teteh datang.
“Nek, punten nek. Mu manggil Itong, disuruh pulang. Tong, ayo!”
“Iyo yo. Silahkan.” Jawab nenek dengan logat padangnya yang masih kentara.
“Itong, pulang dulu Nek. Makasih kue dan ceritanya.”
“Bawalah pulang. Kue ni untuk awak surang. Makasih, Tong.”
“Iya, Nek.”
Rumah nenek begitu dekat menempel di sebelah rumahnya sendiri sehingga sekeluar Itong dari rumah nenek, ia tak sempat bertanya gerangan apa yang terjadi.
“Cepet Tong, masuk.” Ujar teteh sebelum merapi yang di dalam – Aa – meletus.
“Teh, sebenarnya …”
“Itong! Masuk!” belumlah sempat itong bertanya, gelegar suara Aa sudah menyambar menembus kayu pintu.
Gaswat oow aku ketauan nieh kayaknya. . .
Lekas teteh menutup pintu rapat-rapat menutup gorden jendela secepat kilat agar ketika gunung merapi itu meletus, para tetangga tak tahu.
Sebungkus rokok dibanting ke meja. Tak berbunyi keras seperti jatuhnya genting tapi cukup menyentakkan Itong.
Seusai membanting sebungkus rokok, Aa membanting dirinya pasrah ke sofa di belakangnya.
Teteh tak menyangka Aa begitu nampak lelah, tak menyangka jika Aa tidak marah marah.
“Duduk, Aa mau cerita.”
“A,..”
“Sudah dengarkan Aa dulu. Setelah ini, kamu mau gimana terserah. Toh kamu sudah besar, sudah baligh. Sudah seharusnya tahu yang baik dan benar dan yang tidak.”
Dan Aa pun mulai bercerita,
“Inget waktu kamu umur 5 tahun? sepulang kamu mengaji kamu malah mukulin anak orang, itu si Idun yang sekarang deket ma kamu. Inget kenapa waktu itu kamu mukulin dia?”
“Inget A.”
“Ya, kamu marah karena Idun ngeledekin kamu karena kamu ga punya bapak. Dan tau kamu kenapa kamu ga punya bapak?”
“Tau A. Bapak kan meninggal waktu Itong umur 4 tahun.”
“Iya, dan waktu itu aa udah SMP, ya samalah kayak kamu sekarang. Apa kamu tau kenapa bapak meninggal?”
“Enggak A. Itong ga pernah berani nanya.”
“Sekarang, coba Tanya Aa.”
Itong malah jadi pengen ketawa, ia berujar dalam hati. C Aa ni mu maen tebak-tebak an atau apa…heran.
“Kenapa bapak meninggal A?” Tanya Itong. Setelah itong melemparkan pertanyaan itu, dilihatnya Aa malah beremosi. Waduh, apa aku salah ngomong. Ujar itong dalam hati.
“Nih (sambil mengambil sebungkus rokok di atas meja dan melemparkan kembali), ini nih yang bikin bapak lu mati!” jawab Aa dengan penuh emosi seakan teringat kembali betapa pahitnya masa itu.
“Bapak…”
“Iya, bapak dulu perokok berat. Memang sih selalu terlihat sehat, tapi waktu Aa pergi untuk ujian kenaikkan kelas, bapak masuk rumah sakit, jantungnya bermasalah, paru-parunya juga..wah pokoknya kompleks deh! Aa jadi ga pergi ujian. Aa malah harus memutar otak buat nyari duit buat bayar rumah sakit. Dari situ Aa putus sekolah karena duit dari mana untuk sekolah. Dulu jarang banget sekolah gratis ga kayak sekarang. Aa juga perokok dulu, tapi enggak lagi sejak itu. Boro-boro mikirin duit buat beli rokok, buat makan ema dan aa juga susah. Dan aa pun bertekad ga akan pernah ngerokok lagi. Alhamdulillah aa dapet istri yang selalu ngingetin aa untuk ga ngerokok, aa ga mau anak aa bernasib sama seperti aa, kehilangan bapak… Meskipun aa ga tau apa yang bakal terjadi nanti. Kematian di tangan Allah, meskipun aa sehat aa bisa aja tetep mati cepat. Tapi setidaknya aa berusaha untuk sehat sebagai bentuk syukur aa ke Allah.”
Di dalam kamar aa, teteh meneteskan air mata sedih mendengar aa ngomongin mati.
“Tong, …” aa melanjutkan bicaranya. “Aa pesen, Itong harus jadi anak sholeh yang bikin ema, aa, teteh n orang-orang yang Itong sayang, seneng sama Itong. Aa sedih kalo Itong ngerokok. Dan aa yakin emak juga sedih kalo tau Itong ngerokok. Itong ga mau kan bikin ema sedih?”
“Enggak A.” jawab Itong yang sedari tadi menahan air matanya di kedua matanya.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Emak yang baru pulang.
Segera Aa menyembunyikan sebungkus rokok tadi dan Itong pun segera menghapus tanda-tanda kesedihan.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Aa, Itong dan teteh.
“Eh, Aa udah pulang.”
“Iya, mak. Emak dari mana?”
“Emak dari rumah sakit, ngejenguk Pa Memet, kena serangan jantung. Kasihan bu Memetnya kelihatan sedih. Emak jadi inget dulu.”
“Pak Memet, bapaknya Idun?”
“Iya, gih Itong. Jenguk sanah, kamu cari Idun dulu tapi. Idun belum keliatan di sana.”
“Iya, emak. Itong tau dimana harus nyari idun.” Segeralah itong melesat ke tempat ‘kongkow’.

Di rumah sakit. Itong ga nyangka Idun itu cengeng. Sejak naik motor mpe nyampe rumah sakit, air mata Idun berlinang mukanya sama persis dengan muka waktu Idun ditonjok itong waktu kecil. Itong pun jadi pengen ketawa inget itu. Tapi ngeliat orang-orang di rumah sakit ngeliatin mereka, itong jadi malu.
“Sst, Idun jangan nangis lu, diliatin banyak orang noh.”
Belum Idun dan Itong tiba di kamar Pak Memet, mereka mendengar perbincangan dokter dan suster yang sambil berjalan terburu-buru
Suster: “apa bisa diselamatkan dok?”
Dokter: “entahlah, usianya sepertinya tak lama lagi.”
Idun yang dari tadi sudah menangis, menjerit meraung tambahlah air matanya mengalir.
“Sst, Idun, berisik. Sst, malu-maluin aja lu.”
“Bapak gua, tong. Bapak gua.”
“Ayo masuk dulu, kita liat dulu keadaannya.”
Di dalam kamar rumah sakit…
“Bapak.”
“Eh, dun. Sini.” Sahut Pak Memet yang kondisinya ternyata lumayan baik.
“Liat ni dun. Akibat rokok. Mulai hari ini, kita tak merokok lah ya?”
“Iya pak.” Jawab idun sambil memeluk bapak satu-satunya itu.
Idun, anak tunggal Pak Memet meski bengal tapi sayang sama kedua orang tuanya yang selalu mengabulkan setiap keinginannya sehingga dia pun nurut dengan permintaan bapaknya yang satu ini.
Itong jadi terharu, jadi ingat dan rindu sekali sama bapaknya.
“Itong juga ga bakal ngerokok lagi pak Memet, Idun. Itong inget bapak Itong.”
“Sini, tong. Bapakmu itu sobat pak Memet. Iya tak merokok lah ya…”
Mereka pun bertekad tidak akan merokok lagi…
Smoking no more!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar