Suatu hari, saya mengajar prifat di suatu daerah di sekitar jl.pahlawan. Kalau bukan karena terpaksa, mungkin saya tidak harus pulang di malam hari. Pada hari itu, tak memungkinkan untuk saya menolak tawaran job itu hingga akhirnya saya ambil juga.
Saya mulai mengajar jam 5 sore hari karena pertimbangan ketersediaan waktu saya dan siswa prifat. Setelah break sholat maghrib jam 6, pembelajaran dilanjutkan hingga adzan isya berkumandang. Saya memutuskan untuk sholat isya di tempat, di rumah siswa prifat. Umur orang siapa yang tahu, oleh karena itu lebih baik sholat dilakukan di awal waktu.
Ketika hendak pamit pulang pada orang tua siswa, orang tua tersebut menawari saya untuk menginap di rumah mereka. Setelah berpikir sejenak, saya menolak tawaran mereka. Memang menginap lebih aman daripada pulang malam, tetapi saya merasa tidak nyaman jika harus menginap di sana. Malah nanti saya harus pulang pagi. Lagipula, jam dinding baru menunjukkan pukul 7.30. Jalanan masih ramai pikir saya. Jadi, dengan cara baik-baik saya menolak tawaran menginap itu dan saya pun pamit pulang dengan motor matic.
Saya pun melaju dengan cepat melewati motor-motor dan mobil-mobil yang lain. Saya tetap waspada akan hal-hal yang bisa saja terjadi. Saya melaju sambil tetap melihat spion kanan dan kiri, tapi tetap fokus akan arah tujuan, pulang.
Setelah beberapa menit tibalah saya di stop-an dekat lapangan gasibu. Saya tetap waspada terhadap segala bentuk kejahatan, saya lihati orang di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang saya. Ketika saya lihat depan, nampaklah tanjakan jembatan layang Pasupati. Tiba-tiba teringatlah akan cerita orang-orang bahwa seringkali terjadi kekerasan dan hal lainnya di atas sana. Saya berpikir dan berharap itu tidak akan terjadi malam ini. Sekalipun demikian, saya sadar saya harus tetap waspada sehingga saya memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi hingga kemungkinan terburuk dan saya pikirkan pula apa yang akan saya
lakukan jika itu terjadi.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, segera saya melaju menuju jembatan Pasupati. Tidak ada apa-apa pikir saya karena melihat banyak mobil dan motor yang masih melaju di atas jembatan ini. Namun, tiba-tiba saja, tiga motor melaju membelok ke arah kiri di depan saya seakan ingin menyalib dan memberhentikan saya. Dan tiba-tiba pun jalanan di atas jembatan ini sepi. Aneh dan saya merasa debaran jantung lebih cepat berdentum. Saya terpaksa berhenti karena tidak memungkinkan untuk saya kabur pada saat itu.
Lalu saya turunkan standar satu, saya matikan motor tanpa menguncinya. Saya masukkan kunci ke dalam saku jaket sebelah kanan saya, saya turun dari motor. Saya buka kaca helm saya, dan saya taruh kedua tangan saya di pinggang. Bukan untuk menantang mereka tapi karena posisi ini, yang dalam bahasa Sunda disebut melak cangkeng, adalah posisi berdiri yang enak menurut saya.
"Ada apa ya?" tanya saya sambil berusaha tenang tanpa terlihat takut atau menantang.
"Ibu gakan kita apa-apain asalkan ibu kasih kita uang." kata salah satu dari 4 orang pemuda yang dengan setelan yang ga rapih terlihat benar-benar seperti anak geng motor urakan.
"Uang? Saya cuma bawa uang 10 ribu, mau?" kata saya. Pemuda itu, tampak saling memandang. Orang yang tadi bicara, bicara lagi.
"Hape hape." katanya
Saya bicara lagi, "Hape saya sudah sering jatoh, justru saya ingin service ni Hape, mau?"
Lalu satu yang lainnya berbisik kepada yang lain sambil melihat motor matic yang saya bawa.
"Eit, tunggu dulu, motor ini bukan motor saya, lagipula ini kreditannya belum lunas. Kalo kalian bawa motor ini, ga hanya polisi yang akan cari, yang kasih kredit motor ini juga. Jadi kemungkinan kalian ketahuan itu besar..." kata saya
Melihat mereka nampak tak terpengaruh omongan saya, saya teringat bahwa langkah pertama menangani penjahat adalah dengan mengingatkannya akan Allah. Sayapun lanjut bicara, "Lagipula kalian ga takut ada yang melihat kalian" saya menengadahkan kepala saya ke atas dan saya tunjuk bahu mereka.
Malaikat di kanan kiri kalian selalu mencatat, Allah dimana saja Melihat. Tapi kalau kalian ga jadi melakukan keburukan kalian, akan jadi kebaikan. Saya akan berdo'a agar kesulitan kaliah dimudahkan."
Nampak beberapa dari mereke bergetar ketika saya menengadahkan kepala ke atas. beberapa di antara mereka pun nampak ingin mundur ketika nama Allah disebut.
Beberapa saat kemudian, seseorang di antara mereka berbisik pada orang yang pertama bicara. Mereka bergerak, saya pun bergerak bersiap siaga kalau-kalau mereka ingin menyerang saya. Namun, ternyata mereka bergerak menuju motor mereka dan pergi meninggalkan saya tanpa kata. Dalam hitungan detik, seseorang dengan motornya tiba dari arah belakang saya.
"Ga apa-apa, Bu?" tanyanya.
"Enggak, saya ga diapa-apain ko. Tapi gatau apa mereka cari target lain." kata saya sambil menaiki motor yang saya bawa.
Lalu saya melanjutkan perjalanan pulang saya dan berdo'a, "Alhamdulillah. Robbi auzidni anasykura ni'matakallati an'amta 'alayya wa 'alaa ibadillahishsholihin." sebagai salah satu wujud syukur saya pada Allah karena-Nya saya selamat.
Cerita ini FIKSI atau FAKTA??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar